Episode 1; Badrus Bergumam
Diposting pada: Kamis, 27 Mei 2010
Entah berapa banyak calon bupati dan atau calon walikota yang meminjam mutiara Islam “Sayyidul Qoum Khodimuhum”. Lepas dari konteks keagamaan, sabda Rosululloh SAW ini., telah banyak memberikan kontribusi positif bagi khazanah teori kepemimpinan. Ironisnya, hadis ini juga bisa jadi dagangan yang layak untuk dijual lewat poster2 maupun baliho pilkada. Menyikapi hal ini, Pertanyaan yang penting untuk diajukan adalah, sejauh mana para politisi ini memahami atau paling tidak mengetahui asbabul wurudnya? Pertanyaan tersebut tentu penting untuk diajukan, terutama oleh masyarakat agar ada control, bahwa tulisan di spanduk2 itu bukan sekedar komoditi politik tapi juga menjadi tujuan pertama dan utama dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya.
Alangkah bahagianya rakyat Surabaya, jika ada pemimpinnya yang mempunyai ruh ‘sayyidul qoum khodimuhum’. Mungkin Data Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas KB) Kota Surabaya yang menyatakan bahwa penduduk miskin di Surabaya yang mencapai 506.902 orang tidak akan berlaku, juga mungkin tidak terjadi data komposisi penduduk berdasar jenis pekerjaan, pengganggur menduduki posisi pertama dengan jumlah sekitar 750.000 orang (
Kompas, 21 Mei 2010).
Khodim artinya Pelayan, abdi, babu, jongos dll, maka masyarakat adalah raja, juragan, majikan, atasan, bos dll. Tapi dialektika juragan – pelayan dalam birokrasi pemerintahan sepertinya sulit terealisasikan. Bagaimana mungkin seorang majikan bawa sepeda motor membonceng rengkek untuk jual sayur dipasar dan diusir pelayannya, jika kita iseng menggunakan teori logikanya
Thomas Aquinas tidak mungkin juragan bersusah payah menghindari lobang-lobang ganas jalan raya karena pelayannya dengan sangat teliti memperhatikan jalan raya yang dilewati sang majikan, atau jika kita agak melete menggunakan teori logikanya
Thomas Hobbes maupun
John Locke tidak mungkin terjadi Juragan
Ngamen dan Ngemis diperempatan lampu merah, karena pelayannya dengan serius serta kreatif menciptakan pendidikan murah sebagai konsekwensi logis terciptanya kesejahteraan.
Hari ini adalah kemerdekaan untuk bergumam sekaligus menyentil siapapun dia yang menggunakan kalimat “Sayyidul Qoum Khodimuhum”, tentu bukan untuk menjatuhkan melainkan sekedar ungkapan kegelisahan pribadi melihat baliho2 incumbent, sungguh tangan ini terasa gatel untuk menuliskan kegelisahan ini, mengapa baru sekarang kau sadari kalimat itu, bukankah lima tahun kemarin kau sudah memimpin??? Maka saya memberanikan diri menggunakan
logika spiral untuk menyatakan mereka berbohong atas nama kalimat agung itu, sudahlah, masyarakat sudah capek dengan retorika celana pendekmu, tak usahlah kau jejali lagi dengan kecerdikanmu yang ambigu.
Dibaca 4 kali