Selamat Atas Kemenangan Pasangan Saiful Ilah dan Musyafa Noer SUCI No 4
Harlah PKB ke 12 DPW PKB Jatim
Your Ad's Here
Hubungi :
081230074787 / 031-71310325
SUCI Harlah PKB 12 Your Ad's Here
13723
Visitor until today

Berita Terkini

Sabtu, 04 September 2010
NU Jatim Prediksi Lebaran Jatuh Bersamaan
Sabtu, 04 September 2010
JLS Terancam Molor
Sabtu, 04 September 2010
Dewan: Operasi Pasar Harus Tetap Sasaran
Jumat, 03 September 2010
DPC TULUNGAGUNG BAGIKAN 250 BINGKISAN KE MASYARAKAT
Jumat, 03 September 2010
MENYONGSONG LEBARAN, PKB JATIM SIAPKAN 500 PARCEL
Jumat, 03 September 2010
Bakorwil Bojonegoro Minta Pemkab Pelototi Daging Tak Jelas
Jumat, 03 September 2010
NU dan Muhammadiyah Jawa Timur Tetapkan Lebaran pada 10 September
Jumat, 03 September 2010
Tolak Interpelasi, PKB Dorong Pemerintah Efektifkan Diplomasi
Jumat, 03 September 2010
Bambang DH Dibidik Kasus Dana Hibah Rp 350 M
Jumat, 03 September 2010
26 Politikus Anggota DPR Periode 1999-2004 Tersangka Suap
Minggu, 05 September 2010
Pahamilah
Arti
Rakyat
Tentukan
Arti
Indonesia

Kantongilah
Etika
Berbangsa
Arahkan
Nalar
Galang
Kekuatan
Indahkan
Tata
Aturan
Nasionalisme

Bersama, kita
Amankan
NKRI
Gabunglah
Satukan
Amanah bangsa !!!

Episode 1; Badrus Bergumam

Diposting pada: Kamis, 27 Mei 2010

Entah berapa banyak calon bupati dan atau calon walikota yang meminjam mutiara Islam “Sayyidul Qoum Khodimuhum”. Lepas dari konteks keagamaan, sabda Rosululloh SAW ini., telah banyak memberikan kontribusi positif bagi khazanah teori kepemimpinan. Ironisnya, hadis ini juga bisa jadi dagangan yang layak untuk dijual lewat poster2 maupun baliho pilkada. Menyikapi hal ini, Pertanyaan yang penting untuk diajukan adalah, sejauh mana para politisi ini memahami atau paling tidak mengetahui asbabul wurudnya? Pertanyaan tersebut tentu penting untuk diajukan, terutama oleh masyarakat agar ada control, bahwa tulisan di spanduk2 itu bukan sekedar komoditi politik tapi juga menjadi tujuan pertama dan utama dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya.
Alangkah bahagianya rakyat Surabaya, jika ada pemimpinnya yang mempunyai ruh ‘sayyidul qoum khodimuhum’. Mungkin Data Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas KB) Kota Surabaya yang menyatakan bahwa penduduk miskin di Surabaya yang mencapai 506.902 orang tidak akan berlaku, juga mungkin tidak terjadi data komposisi penduduk berdasar jenis pekerjaan, pengganggur menduduki posisi pertama dengan jumlah sekitar 750.000 orang (Kompas, 21 Mei 2010).
Khodim artinya Pelayan, abdi, babu, jongos dll, maka masyarakat adalah raja, juragan, majikan, atasan, bos dll. Tapi dialektika juragan – pelayan dalam birokrasi pemerintahan sepertinya sulit terealisasikan. Bagaimana mungkin seorang majikan bawa sepeda motor membonceng rengkek untuk jual sayur dipasar dan diusir pelayannya, jika kita iseng menggunakan teori logikanya Thomas Aquinas tidak mungkin juragan bersusah payah menghindari lobang-lobang ganas jalan raya karena pelayannya dengan sangat teliti memperhatikan jalan raya yang dilewati sang majikan, atau jika kita agak melete menggunakan teori logikanya Thomas Hobbes maupun John Locke tidak mungkin terjadi Juragan Ngamen dan Ngemis diperempatan lampu merah, karena pelayannya dengan serius serta kreatif menciptakan pendidikan murah sebagai konsekwensi logis terciptanya kesejahteraan.
Hari ini adalah kemerdekaan untuk bergumam sekaligus menyentil siapapun dia yang menggunakan kalimat “Sayyidul Qoum Khodimuhum”, tentu bukan untuk menjatuhkan melainkan sekedar ungkapan kegelisahan pribadi melihat baliho2 incumbent, sungguh tangan ini terasa gatel untuk menuliskan kegelisahan ini, mengapa baru sekarang kau sadari kalimat itu, bukankah lima tahun kemarin kau sudah memimpin??? Maka saya memberanikan diri menggunakan logika spiral untuk menyatakan mereka berbohong atas nama kalimat agung itu, sudahlah, masyarakat sudah capek dengan retorika celana pendekmu, tak usahlah kau jejali lagi dengan kecerdikanmu yang ambigu.
Dibaca 4 kali

Partai Kebangkitan Bangsa Bekerja dan Berbagi Untuk Rakyat