KEBANGKITAN NASIOANAL VERSI KYAI LENTANG SONGO : Refleksi Kebangkitan Nasional Ke-102
Diposting pada: Kamis, 20 Mei 2010
Politik devide et impera yang diandalkan oleh pemerintah kolonial untuk menyuburkan sistem penjajahan terhadap bangsa Indonesia menjadi salah satu sebab bersatunya rakyat Indonesia untuk melawannya. Ada teori yang menyatakan bahwa “pengekangan hanya akan menghasilkan pemberontakan” , memang tidak selalu sesuai apalagi banyak kalangan intelektual lokal maupun manca negara yang sudah terlanjur percaya bahwa teori yang sudah mapan pun jika diterapkan di Indonesia, maka teori tersebut butuh penelaahan ulang, contohnya teori tentang kemiskinan; orang Indonesia adalah orang yang kuat secara mental maupun spiritual, betapa tidak orang yang nyata – nyata tidak punya uang untuk kehidupannya besuk masih sanggup tersenyum dan terpingkal – pingkal menyaksikan goyangan penyanyi dangdut di TV, jangan uring – uringan dan emosional jika jumlah orang seperti ini dinegeri kita sungguh tak terbatas, juga ada orang yang nyata2 rumah dan segala entitas sosialnya terendam lumpur masih bisa berkata ini adalah musibah, dan kita wajib bersabar dan mensyukurinya. hal tersebut sungguh membutuhkan kualitas kedewasaan yang super, dan ini hanya dimiliki orang Indonesia sebagai konsekwensi logis atas apa yang menimpanya kurang lebih selama 350 tahun dimiskinkan, dibohongi dan dijajah.
Dus, momentum kebangkitan Nasional yang akan dirayakan pada setiap tanggal 20 Mei seharusnya menjadi alat kontemplasi untuk mendaur ulang kemapanan berfikir, tentang sejauh mana perjalanan Bangsa ini meraih kebangkitan?
Tak terasa sudah 102 tahun kita berulang – ulang memperingati hari Kebangkitan Nasional dengan berbagai upacara peringatan serta nostalgia kemenangan masa lalu. Kyai Lentang Songo, Seorang Kyai sepuh di Jawa Timur berkali – kali mengingatkan penulis, pembelajaran dan pendalaman kita terhadap segala sesuatu di Negeri ini sungguh sangat parsial dan tidak tuntas. Waktu itu saya terus mengejar statement beliau dengan beberapa teknis pertanyaan layaknya penyidik di Kepolisian, mohon maaf kyai bukankah Bangsa ini telah mampu keluar dari belenggu penjajahan dengan pembuktian riil proklamasi kemerdekaan pada 17 – 08 - 1945? Sambil mengepulkan rokok dimulutnya beliau menjawab, Ah itu hanya fatamorgana. Engkau pasti tau bahwa makna kemerdekaan adalah kesejahteraan. Sengaja hanya saya utarakan satu idiom saja, agar engkau tidak terlalu bingung seperti televisi dan koran koran kita yang bingung menayangkan apa besuk, sehingga tidak penting lagi kecerdasan dan efek sosial konsumennya, yang penting adalah target senyum indah pelaku kapitalis. Kesejahteraan, tukang becak di pertigaan Ketintang Baru pun tau bahwa sejahtera menunjuk ke keadaan yang baik, kondisi manusia di mana orang-orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat dan damai. Seterusnya dalam kebijakan sosial, kesejahteraan sosial menunjuk ke jangkauan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini adalah istilah yang digunakan dalam ide negara sejahtera.
Engkau akan mencicil jika kuutarakan bahwa penerapan sejahtera baru sebatas pidato politik, belum menyentuh kulit para kuli jalanan dan anak2 asongan di perempatan kota serta terminal – terminal negeri ini. Saya pun menyela, Ah sebegitu seremkah negeriku kyai? Sambil menyeruput kopi yang sudah lama dingin dia menjawab, Aku baru salut jika kau berkenan kumpulkan seluruh profesor, doktor, Insinyur, budayawan dan orang2 pinter lainnya, dan tanyalah pada mereka sudahkah bangsa ini sejahtera? hakkul yaqin mereka akan jawab belum karna persoalan ini dan itu, diskusinya pun tidak jauh karna dia yang memimpin, mereka yang memimpin, jika kami yang memimpin, dan seterusnya akan mbulet, serta ujung2nya lupa bahwa tema utamanya adalah kesejahteraan bukan soal siapa yang memimpin. Ini hanyalah soal kecil betapa kita tidak serius belajar secara tuntas tentang persatuan, meskipun persatuan merupakan spare part utama mesin kebangkitan, kita hanya puas dengan metodologi parsialis.
Karna saya tidak terima dengan pendapat beliau, kukumpulkan dan kuputar otak untuk mengurai data-data yang kuperoleh dari koran, TV serta hasil diskusi dengan intelektual muda pengagum tetesan embun ilmu.
Menurut saya Bangsa ini tidak sekerdil itu kyai, jika mau jujur bukankah negeri ini telah mendapatkan penghargaan atas pencapaiannya mengatasi korupsi yang telah lama jadi borok akut negeri ini. Lepas dari persoalan politik, pemerintah negeri ini telah menunjukkan keseriusannya dalam meraih kebangkitan Indonesia. Soal sejahtera tidak adil dunk jika hanya melihat kaum lemah, bukankah negeri ini juga tercatat sebagai konsumen tertinggi otomotif, serta tidak sepinya mall2 menunjukkan kualitas kesejahteraan masyarakat kita meningkat. Yang penting adalah pemerintah negeri ini sudah punya niat baik untuk menyejahterakan rakyatnya, jika pun akibat persoalan politik, belum tercapai kesejahteraan tersebut, pemerintah kita masih punya pahala satu karna sudah berniat untuk melakukan kebaikan, seperti bunyi Hadis riwayat Bukhori Muslim; bahwa Barang siapa yang berkeinginan untuk berbuat kebaikan kemudian dia tidak melakukannya, Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna.
Sambil mengepulkan asap rokoknya ke wajah saya, beliau menyela tidak usahlah kau pake nama Rosululloh saw., untuk menguatkan pendapatmu tentang negeri ini, beliau terlalu agung dan suci untuk legitimasi pendapat tentang kesejahteraan Indonesia. Biarlah Indonesia mencari sendiri materi kebangkitannya, bangsa ini baru 102 tahun mempelajari Kebangkitannya, mungkin masih butuh 20 sampai 30 tahun atau mungkin 200 tahun lagi menuju kematangan makna kebangkitan, sudah untung bangsa ini punya partai kebangkitan, saya tidak berani membayangkan jika negeri ini tidak punya partai kebangkitan. Lho apa hubungannya kyai? Makanya kalau mikir jangan melulu pake otak, sekali – kali pake hati dan dengkulmu ben cerdas. Dengan adanya partai kebangkitan minimal ada alat yang dalam istilah lain kita namakan atom atau bahkan lebih kecil dari itu untuk meledakkan kebekuan makna kebangkitan, sehingga masih ada yang menggunakan kata kebangkitan agar nasib kata itu tidak seburuk kata Gemah Ripah Loh Jinawi Slamet Wilujeng Berkah.
(Ka'bil Mubarok) Dibaca 10 kali