JANGAN USIK KETENANGAN RAKYAT INDONESIA
Diposting pada: Jumat, 23 April 2010
Diam bukan berarti tak berani. Inilah sebuah kata yang tepat sebagai prolog sintimentisme atas Meletusnya kerusuhan di PT Drydock World Graha, Tanjunguncang, Kota Batam. Sejenak lalu hal ini kembali mengusik ketenangan masyarakat Indonesia secara umum, setelah sekian lama bangsa kita diam oleh keangkuhan bangsa lain yang mencari makan dibumi Indonesia.
perusahaan galangan kapal di Batam yang menjadi tempat kerusuhan ini dipicu oleh seorang supervisor berdarah India, Ganesh, yang mengeluarkan kata-kata kasar. Dia berkata, "All Indonesian stupid (baca : Semua orang Indonesia bodoh)." Tidak hanya itu Ganesh secara arogan mengolok pekerja Indonesia dengan kata "Ninty nine percent Indonesian stupid." (99% orang Indonesia Bodoh).
Siapapun dia, dan bangsa apapun jika dihina dengan kata – kata tersebut akan marah, apalagi ini dilakukan oleh orang yang numpang cari makan ke tempat orang lain dan menghina sipenyedia makan. Logika apapun tak akan membenarkan oknum India tersebut.
Bahkan kegiatan penghinaan kepada WNI oleh pekerja India sudah sering dilakukan. "Kalau topi ini bisa ngomong, ia akan ngomong bahwa tiap hari kami dimaki-maki bodoh dan lainnya," ujar ari seorang pekerja dari departemen QC (jawapos/23-04-2010). Kita dapat mengatakan bahwa kekerasan ini bukan baru sekarang terjadi, tapi sudah lama, meskipun yang paling parah terjadi pada 22/04/2010, jika mengacu pada kovenan internasional tentang Deklarasi Universal Hak Asasi manusia; Tidak ada satu bangsapun yang boleh menghina bangsa lain kecuali bangsa tersebut melakukan pelanggaran – pelanggaran HAM.
Boleh jadi oknum orang India tersebut tidak begitu memahami kualitas kebangsaan masyarakat Indonesia yang begitu super, jika ingin tau siapa yang marah akibat kerusuhan tersebut, harus ada kajian historis sosiologis mendalam tentang siapa yang bekerja atau bermukim di kota Batam. Masyarakat kota Batam merupakan masyarakat heterogen seperti halnya daerah lain diwilayah Indonesia. Di kota ini terdiri dari suku Jawa, suku Minang, Suku Makassar dan beberapa suku lain. Beberapa suku tersebut mempunyai keberagaman ekspresi kebangsaan yang satu sama lain saling menguatkan.
Kita tau bahwa orang Jawa memiliki stereotipe sebagai suku bangsa yang ramah dan sopan santun. Tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik, karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat. Akan tetapi bukan berarti orang Jawa tidak memiliki watak egaliter, lugas, terbuka, terus terang, apa adanya, dan tidak suka basa-basi, dalam hal ini cukuplah Bonek, Arema, LA Mania, dll sebagai contoh. Jangan mengusik ketenangan air, jika tidak ingin digulung ombak dan dimusnahkan oleh sunami.
Ini baru suku Jawa, belum minang, makassar, batak dll. Mungkin dilain kesempatan kita perlu mempublikasikan secara total mengenai kredibilitas bangsa indonesia yang dibangun dengan berbagai macam suku. Bukankah bangunan akan kokoh jika terdiri dari pasir, batu, air, semen, gragal, kerikil, kayu dan lain-lain? Maka jangan macam – macam dengan orang Indonesia. Jika kau ingin tetap menikmati kekayaan alamnya jangan sekalipun mengganggu ketentraman dan kesatuannya, jika tidak kau akan dilindas oleh keperkasaan Garuda dengan senjata “bhineka tunggal ika” yang telah lama diasah.
(M. Ka’bil Mubarok) Dibaca 11 kali